|
Tanggal 26 November 2011, program Magister Ilmu
Sosia (MIS) Program Pasca sarjana Unpar, mengadakan seminar sehari bertajuk:
”Gender dan Migrasi Tenaga Kerja; Wajah Indonesia”. Seminar yang
diselenggarakan di Mgr. Geise Lecture Theater/ audio visual Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Unpar, dibuka secara resmi oleh Rektor UNPAR Prof. Robertus
Wahyudi Triweko, dan dihadiri pula oleh Direktur Program Pasca Sarjana, Prof.
Bambang Suryoatmono. Sebagai pembicara dalam seminar adalah Dr. Indraswari (Unpar),
Yuniyanti Chuzaifah (Komnas Perempuan), Wahyu Susilo (Migrant Care), Tatang
Budie Utama Razak (Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Kementrian Luar Negeri
RI), Drs. Hening Widiatmoko, MA, (Kadisnaker Prov. Jabar), dan Nuryati Solapari
(dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten). Sebagai moderator adalah
Kepala Program Magister Ilmu Sosial, Dr. Sukawarsini Djelantik dan Dr. Sylvia
Yazid. Para peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat,
khususnya dari Bandung
dan sekitarnya.
Salah seorang pembicara, Nuryati Solapari, adalah seorang mantan Tenaga Kerja
Wanita (TKW) yang pernah bekerja di Arab Saudi, dan kini seorang kandidat doktor
Universitas Padjadjaran. Kesaksian Nuryati menegaskan bahwa terdapat berbagai
kelemahan dalam manajemen ketenagakerjaan di Indonesia, dari tingkat desa,
nasional, bahkan lemahnya perlindungan pemerintah. Akan tetapi, dengan bekal
pendidikan yang cukup (telah lulus SMA ketika berangkat), tenaga kerja wanita Indonesia
memiliki bekal kecerdasan untuk dapat melindungi dirinya sendiri ketika bekerja
di negeri yang jauh dan memiliki adat istiadat dan bahasa yang berbeda,
terutama ketika menghadapi masalah. Para
pembicara sepakat bahwa masalah-masalah yang selama ini banyak dihadapi oleh
para TKI/TKW disebabkan oleh banyaknya pelanggaran yang dialami oleh para
aparat dan agen penyedia tenaga kerja, baik sebelum diberangkatkan, ditempat
kerja, maupun ketika sudah kembali ke daerah asal. Untuk itu diperlukan
kebijakan yang sinergis dan koordinasi yang baik antar lembaga maupun para
pemangku kepentingan terkait ketenagakerjaan di Indonesia.
kembali ke indeks berita
|